Malioboro, Ikon Pariwisata Yogyakarta

Saya meyakini nama Malioboro sudah tidak asing bagi banyak orang, bahkan bagi yang belum pernah berkunjung kesana.  Tiap kali ada teman atau saudara berkunjung, pasti selalu ada Malioboro di daftar plesir mereka.Kalau dulunya Malioboro dikenal sebagai jalan pusat pemerintahan, sekarang dikenal tidak hanya sebagai nama jalan, tetapi juga sebagai area wisata. 

Malioboro dahulu dan sekarang

Malioboro ini bukan nama baru yang muncul tahun kemarin. Namanya sudah ada sejak Republik ini baru direncanakan. Di kanan dan kiri jalan ini, didirikan bangunan-bangunan pemerintahan Hindia Belanda, serta lengkap dengan toko-toko kebutuhan sandang dan sebagainya. Strategis secara pemerintahan dan secara ekonomi. Saking strategisnya, istana presiden pernah diletakkan di sebuah bangunan yang letaknya di ujung jalan Malioboro ini. Bangunan tersebut dikenal dengan nama Gedung Agung.

mal1

Malioboro dahulu. (Credit to uniqpost.com; lihat situs tersebut untuk gambar-gambar yang lain)

Meskipun nampak seperti satu ruas jalan, namun sebenarnya jalan dari Stasiun Tugu hingga Titik Nol Kilometer itu bukanlah Malioboro semata. Jalan Malioboro sesungguhnya hanya memiliki ruas dari Stasiun Tugu dan berakhir di perempatan Malioboro Mall. Ruas selanjutnya hingga Titik Nol disebut dengan Jalan Margo Mulyo.

img_3113

Malioboro kini.

Tengok kanan dan kiri

Mayoritas turis akan memasuki Malioboro ini dari arah utara ke selatan. Apalagi sekarang parkiran kendaraan dipusatkan di Parkiran Abu Bakar Ali yang terletak di utara area Malioboro.

Ketika memasuki area Malioboro, kita akan diberi sambutan selamat datang layaknya masuk ke Indomar*t. Bedanya mungkin sang pemberi sambutan adalah bapak-bapak driver becak. Mereka dengan sopan menawarkan paket wisata unggulan mereka, naik becak ke Alun-Alun, Keraton, lalu Taman Sari, lalu ke Dagadu (katakanlah Jogernya Jogja). Banderol yang ditawarkan untuk jasa mereka sebesar Rp 15.000,00. Negotiable. Harga tersebut belum termasuk tiket apabila masuk ke tempat wisata.

Apabila anda tidak datang sebagai budget traveller (pelancong kurang dana) seperti saya, anda bisa menyewa andong. Yang ini menarik karena jarang ada di kota-kota lain di Indonesia.

Sisi timur jalan ini sangat pedestrian friendly. Trotoarnya sangat lebar, banyak tempat berteduh dan kursi taman. Nah disini saya foto dengan tiang lampu karena tidak ada yang mau foto dengan saya.

Eits, ini tiang lampu jogja yang istimewa, ikonik dengan warna hijau dan cabang tiga, dengan wadah lampu kaca yang berbentuk prisma. Seperti yang sering muncul di televisi.

Dari sisi ini juga bisa didapatkan banyak foto-foto yang menarik apabila anda menyukai fotografi.

Di sisi barat jalan ada trotoar dan jalur untuk kendaran tak bermotor seperti andong dan becak. Di sini agak berdesakan karena trotoar di sisi ini lebih kecil dan dipenuhi dengan penjual batik, cenderamata, pakaian khas Jogja, dan sebagainya.

img_1049_pradit

The famous Andongs. (Credit to Pradit (@pradita_dt), my college friend)

Usahakan jangan berjalan di jalur kendaraan tak bermotor, nanti bisa tertabrak becak. Saya tidak bercanda. Becak bukan kendaraan yang pakem remnya. Anda bisa tidak menyadari kalau ada becak dibelakang karena senyap suaranya. Tiba-tiba saja tertubruk. Terjerembap di depan kerumunan orang, sakitnya mungkin tidak seberapa, malunya itu yang luar biasa.

Margo Mulyo

Berjalan terus ke selatan, anda akan menemukan salah satu pintu masuk pasar Beringharjo.  Pada awal eksistensi pasar ini, pintu masuknya memang dari jalan Malioboro ini. Di depan pintu masuk ini ada lapak makanan tradisional, yaitu pecel dan beberapa jenis lauk bumbu tradisional. Ada juga pelengkap seperti tempe, gembus bacem, dan makanan ndeso lainnya. Menariknya, lapak ini tidak pernah sepi. Turis lokal dan manca makan bersama di sini. Sajiannya nampak menarik dan seharusnya mengundang selera. Sayang seribu sayang, saya baru saja makan. Mungkin lain kali.

img_3138

Pintu masuk Pasar Beringharjo yang sudah ada sejak dahulu. Coba anda lihat struktur ini dengan foto hitam putih di awal tulisan. Tidak banyak perubahan nampaknya.

Mendekati ujung jalan, ada sebuah benteng tinggalan Belanda bernama Vredeburg. Benteng ini sekarang dialihfungsikan menjadi museum sejarah perjuangan kemerdekaan.

Didepannya ada bangunan yang dulunya istana kepresidenan. Ingat, Yogyakarta pernah menjadi ibu kota negara. Bangunan ini terawat sangat baik dan halamannya juga bersih, meskipun tidak selalu dibuka untuk umum.

img_3134

Di ujung jalan Malioboro inilah segala macam hal menarik bermuara. Ujung jalan ini merupakan simpang empat yang lebih dikenal dengan sebutan “Titik Nol Kilometer Jogja”. Titik ini dianggap titik tengah dari Provinsi D.I. Yogyakarta, secara filosofi, bukan geografi. Seringkali berbagai festival dan pameran seni diadakan di sini. Titik Nol ini menjadi tempat bersantai dan nongkrong di malam hari.

Sebagaimana tempat wisata, ada banyak sekali pilihan hotel disini yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari area. Mulai dari Novotel, Ibis, hingga guest house. Ada berbagai toko pakaian termasuk Matahari dan Ramayana, ATM, dan ada satu mall di sisi timur jalan, yaitu mall Malioboro.

Biaya

Kawasan Parkir Abu Bakar Ali Per motor Rp 3.000,00
Kawasan Parkir Abu Bakar Ali Per mobil Rp 5.000,00
Paket Wisata Becak (Kraton, Alun-alun, Tamansari) Per becak Rp 15.000,00

Lokasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s